Haii Mom..
Memberikan susu formula berlebihan kepada balita dapat mematikan selera makan anak dan menimbulkan gangguan anemia serta kegemuka. Susu sulit dicerna dan lama bertahan dalam lambung karena kandungan karbohidrat, protein dan lemaknya sama-sama dominan.
Tak heran jika anak merasa kenyang terus dan malas makan sehingga asupan nutrisi alami dan serat terbatas. Akibatnya, resiko sembelit dan anemia zat besi meningkat. Dengan kandungan zat besi yang rendah, anak menjadi malas beraktivitas dan rendah daya tanggapnya. Selain itu susu yang lama bertahan dalam lambung menghasilkan zat racun yang merangsang tubuh membentuk lemak guna mengikat racun tersebut agar tidak mengganggu fungsi tubuh.
Nah, dari sinilah awal kegemukan pada anak-anak yang jarang makan, tetapi rajin minum susu.
Berikan susu sesuai dengan anjuran yang di tetapkan pada setiap kemasan, biasanya untuk perhari 600cc untuk batas aman dikonsumsi. Makanan pokok sangatlah penting loh Mom, di usia tumbuh kembang si kecil.
see u..:)
Kamis, 18 Oktober 2012
Selasa, 02 Oktober 2012
Hepatitiss..
Penyakit hepatitis A terutama menyerang anak dan kaum dewasa muda.Penyakit yang dikenal juga sebagai penyakit kuning (jaundice) ini penularannya berbeda dengan VHB dan VHC, yakni melalui makanan dan minuman yang tercemar kotoran yang mengandung virus ini. Bersifat stabil, sel hati menyembunyikan virus dalam sel empedu untuk kemudian virus masuk ke dalam sistem pencernaan. Sebab itu, kotoran penderita mempunyai konsentrasi tinggi selama periode infeksi.
Konsentrasi virus dalam kotoran penderita masih tetap tinggi 2 – 3 minggu setelah gejala penyakit muncul. Sedangkan air ludah dan cairan tubuh penderita mempunyai konsentrasi rendah. Virus hepatitis A (VHA) bertahan hidup 3 – 4 jam dalam ruang suhu normal. Di sini peralatan makan atau makanan yang tercemar VHA dengan sendirinya akan mudah menularkan penyakit ini. Hepatitis A bisa juga menular melalui kontak langsung, seperti melalui ciuman atau hubungan seksual.
Untuk memastikan seseorang mengidap VHA, dilakukan tes darah yang menunjukkan positif terhadap antibodi virus tersebut. Tes lebih tepat bila kadar ALT (serum alanine aminitransferase)dan AST (asparaten aminotransferase) menunjukkan angka di atas normal.
Mudah-tidaknya terinfeksi virus ini umumnya tergantung pada kondisi higienis lingkungan. Asia Tenggara termasuk wilayah berisiko tinggi. Sedangkan di AS 1/3 penduduk pernah terinfeksi virus hepatitis A, termasuk anak-anak di pusat penitipan anak yang tertular lewat alat makan yang dipakai bersama.
Gejala hepatitis A biasanya muncul akut, seperti gejala flu, mual, demam, pusing, air seni kemerahan, bagian bola mata yang putih menjadi kekuningan, dan perut sebelah kanan atas terasa sakit atau bebal. Namun, pada anak-anak kadang kala tidak timbul gejala yang mencolok.
Tidak ada pengobatan secara khusus pada hepatitis A. Asalkan dirawat dengan baik, biasanya bisa disembuhkan setelah enam bulan. Penderita harus beristirahat total (1 – 4 minggu), menghindari kontak badan dengan nonpenderita dan diberi makanan cukup protein, tapi rendah lemak. Bila dirawat di rumah, semua pakaian bekas dipakai, alat makan dan minum harus dicuci secara terpisah. WC sehabis digunakan penderita, dibersihkan dengan antiseptik. Mitos yang menyatakan, penderita sakit kuning harus makan banyak gula, tidak seluruhnya benar. Fungsi gula sebenarnya hanya menambah energi, agar kekuatan cepat pulih.
Komplikasi akibat hepatitis A hampir tidak ada, kecuali pada para lansia atau seseorang yang memang sudah mengidap penyakit kronis hati atau sirosis.
Agar tidak tertular, orang yang berhubungan langsung dengan penderita diberi imunisasi sementara dengan serum globulin imun. Sekarang ada vaksin keluaran SmithKline Beecham Inc, AS, terbuat dari VHA nonaktif yang diendapkan dalam larutan steril. Jadi bukan terbuat dari darah yang terinfeksi. Tubuh akan bereaksi terhadap virus nonaktif tersebut sehingga melindungi serangan VHA.
Hasil penelitian menyatakan, vaksin ini efektif pada lebih dari 90% orang. Efek sampingan tidak ada kecuali rasa sakit pada bagian yang terkena suntikan. Hanya sekitar 10% yang merasa kurang enak badan sehabis disuntik. Anak-anak antara usia 1 – 18 tahun diberi dua dosis vaksin initial dan booster antara usia 6 – 12 bulan. Orang dewasa diberi satu initial dosis kemudian booster dalam waktu 6 – 12 bulan. Efek proteksi baru terjadi paling tidak dua minggu setelah suntikan. Namun, belum diketahui berapa lama suntikan ini dapat memberikan proteksi terhadap VHA.
Senin, 23 Juli 2012
Minggu, 12 Februari 2012
Hindari Lampu Kamar Terang Saat Bayi Tidur!
“Sebaiknya matikan lampu atau gunakan lampu redup pada saat bayi tidur malam,” jelas Dokter berkerudung ini.
Pernyataan ini diamini oleh dr Runi Deasiyanti, Sp. A dari Klinik SamMarie. “Kalau lampunya terlalu terang, saat bayi terbangun bisa membuat ia benar-benar bangun. Sedangkan jika suasana kamar redup, saat terbangun bayi masih tetap bisa melihat keadaan sekitar dan tertidur kembali,” katanya.
Selain itu, pada malam hari tubuh memroduksi melatonin -hormon yang berfungsi untuk mengatur siklus tidur. Hanya saja hormon ini sangat sensitif terhadap cahaya, sehingga tidak akan diproduksi jika saat tidur malam menggunakan lampu. Padahal jika produksi melatonin meningkat, kualitas tidur menjadi baik, imunitas meningkat dan ketegangan berkurang. Bayi pun tidak mudah rewel.
Bisa Memicu Mata Minus
“Hampir semua bayi lahir mengalami mata hipermetropi -rabun dekat- berkisar plus dua sampai tiga dioptri. Namun pada usia 0-2 tahun di mana merupakan masa perkembangan yang pesat pada bayi -termasuk mata- bola mata bayi akan berkembang dan menjadi lebih panjang, sehingga ukurannya akan perlahan-lahan mendekati normal dan hipermetropi akan hilang dengan sendirinya,” jelas dr Siti F.S. Ramadhani, Sp. M yang berpraktik di RS Puri Indah.
Namun, rangsangan cahaya secara terus menerus khususnya pada saat tidur malam di mana pertumbuhan sedang terjadi, bisa merangsang mata untuk tetap bekerja walaupun mata terpejam.
Sehingga bola mata akan memanjang melebihi normal dan akan menyebabkan miopi -mata minus atau rabun jauh- pada anak di masa depan.
Akan tetapi, miopi juga bisa dipengaruhi beberapa hal, antara lain:
1. Keturunan, beberapa penelitian lain juga menyebutkan jika orangtuanya mengalami miopi, keturunannya kemungkinan akan mengalami hal yang sama.
2. Gaya hidup, antara lain anak yang terlalu cepat membaca, kebiasaan membaca yang salah, bermain game, penggunaan komputer yang lama dan lain-lain.
3. Berusaha melihat sesuatu dengan lebih jelas, misalnya melihat benda-benda atau huruf yang berukuran kecil sehingga akan ‘memaksa’ mata untuk bekerja ekstra dan mengakibatkan bola mata memanjang.
So, Moms, mengingat banyak manfaatnya, mulailah meredupkan kamar saat tidur malam mulai sekarang.
Pernyataan ini diamini oleh dr Runi Deasiyanti, Sp. A dari Klinik SamMarie. “Kalau lampunya terlalu terang, saat bayi terbangun bisa membuat ia benar-benar bangun. Sedangkan jika suasana kamar redup, saat terbangun bayi masih tetap bisa melihat keadaan sekitar dan tertidur kembali,” katanya.
Selain itu, pada malam hari tubuh memroduksi melatonin -hormon yang berfungsi untuk mengatur siklus tidur. Hanya saja hormon ini sangat sensitif terhadap cahaya, sehingga tidak akan diproduksi jika saat tidur malam menggunakan lampu. Padahal jika produksi melatonin meningkat, kualitas tidur menjadi baik, imunitas meningkat dan ketegangan berkurang. Bayi pun tidak mudah rewel.
Bisa Memicu Mata Minus
“Hampir semua bayi lahir mengalami mata hipermetropi -rabun dekat- berkisar plus dua sampai tiga dioptri. Namun pada usia 0-2 tahun di mana merupakan masa perkembangan yang pesat pada bayi -termasuk mata- bola mata bayi akan berkembang dan menjadi lebih panjang, sehingga ukurannya akan perlahan-lahan mendekati normal dan hipermetropi akan hilang dengan sendirinya,” jelas dr Siti F.S. Ramadhani, Sp. M yang berpraktik di RS Puri Indah.
Namun, rangsangan cahaya secara terus menerus khususnya pada saat tidur malam di mana pertumbuhan sedang terjadi, bisa merangsang mata untuk tetap bekerja walaupun mata terpejam.
Sehingga bola mata akan memanjang melebihi normal dan akan menyebabkan miopi -mata minus atau rabun jauh- pada anak di masa depan.
Akan tetapi, miopi juga bisa dipengaruhi beberapa hal, antara lain:
1. Keturunan, beberapa penelitian lain juga menyebutkan jika orangtuanya mengalami miopi, keturunannya kemungkinan akan mengalami hal yang sama.
2. Gaya hidup, antara lain anak yang terlalu cepat membaca, kebiasaan membaca yang salah, bermain game, penggunaan komputer yang lama dan lain-lain.
3. Berusaha melihat sesuatu dengan lebih jelas, misalnya melihat benda-benda atau huruf yang berukuran kecil sehingga akan ‘memaksa’ mata untuk bekerja ekstra dan mengakibatkan bola mata memanjang.
So, Moms, mengingat banyak manfaatnya, mulailah meredupkan kamar saat tidur malam mulai sekarang.
Langganan:
Komentar (Atom)

